F/A-18 Hornet menjadi dasar bagi pengembangan
F/A-18E/F Super Hornet, yakni pesawat tempur rancang-ulang F/A-18 yang lebih besar dan evolusioner. Dibandingkan dengan Hornet, Super Hornet berukuran lebih besar, lebih berat, dan terdapat perbaikan dalam hal daya jelajah dan daya muatnya. F/A-18E/F mulanya diusulkan sebagai alternatif bagi pesawat tempur yang sama sekali baru untuk menggantikan pesawat serang yang masih bertugas seperti A-6. Varian yang lebih besar juga diarahkan untuk menggantikan F-14 Tomcat yang sudah hampir uzur, dengan demikian dapat saling berganti-tugas dengan Hornet di Angkatan Laut Amerika Serikat, dan bertugas pada rentang peran yang lebih luas meliputi pengisian bahan bakar di udara, dan anjungan pengacau kelistrikan (
electronic jamming platform).
Asal mula
Pada bulan Agustus 1973, Kongres Amerika Serikat memerintah Angkatan Laut untuk mencarikan alternatif murah bagi F-14.
Grumman mengusulkan pesawat F-14 yang disederhanakan dan diberi nama F-14X, sedangkan
McDonnell Douglas mengusulkan
F-15 varian angkatan laut, kedua-duanya hampir semahal F-14. Pada musim panas itu,
Menteri Pertahanan Schlesinger memerintahkan Angkatan Laut untuk memberi penilaian pesawat pesaing di
Program Pesawat Tempur Ringan Angkatan Udara Amerika Serikat (
LWF),
General Dynamics YF-16 dan
Northrop YF-17.
[ Kompetisi Angkatan Udara mensyaratkan pesawat tempur siang-hari tanpa kemampuan menyerang. Pada bulan Mei 1974, Komite Pelayanan Militer Dalam Negeri mengalihkan dana sebesar $34 juta dari program VFAX ke program baru, yaitu
Pesawat Tempur Udara Angkatan Laut (
NACF), dimaksudkan untuk membuat penggunaan maksimum teknologi untuk program LWF.
Desain

Sebuah Hornet menampilkan aksi panjat dengan
g yang besar pada sebuah pameran dirgantara. Sudut serang yang besar menyebabkan terbentuknya
pusaran ujung sayap yang kuat di tepi depan perluasan.
F/A-18 adalah pesawat yang memiliki mesin kembar, sayap tengah, dan dapat menjalani berbagai misi taktis. Pesawat ini sangat lincah, sebagai dampak dari rasio dorongan-terhadap-bobot pesawat yang baik, sistem kendali digital
fly-by-wire, dan perluasan tepi depan (
leading edge extensions) (LEX). LEX memungkinkan Hornet untuk tetap dapat dikendalikan pada
sudut serang yang besar. Ini karena LEX menghasilkan pusaran yang kuat di atas sayap, menghasilkan aliran udara yang bergolak di atas sayap, dan dengan demikian menunda atau menghilangkan pemisahan aerodinamis yang bertanggung jawab bagi kehilangan keefektifan permukaan aerodinamika (
stall), memungkinkan sayap Hornet menghasilkan gaya angkat yang besarnya beberapa kali bobot pesawat, meskipun pada sudut serang yang besar. Oleh karena itu, Hornet mampu berbalik pada putaran yang ekstrem dengan rentang laju yang variatif.
Penstabil vertikal miring adalah unsur desain pembeda lainnya, dan di antara karakteristik desain lainnya yang memungkinkan kemampuan sudut serang besar pada Hornet adalah penstabil horizontal yang diperbesar, penutup tepi trailing yang diperbesar yang beroperasi sebagai
flaperon,
flap yang besar dan panjang, dan pemprograman komputer kendali terbang yang melipatgandakan pergerakan tiap-tiap paras kendali pada laju rendah dan memindahkan kemudi vertikal, bukan sekadar ke kiri dan ke kanan. Selimut kinerja sudut serang normal pada Hornet diletakkan untuk pengujian menyeluruh dan perbaikan pada NASA F-18
Kendaraan Penelitian Alfa Tinggi (
HARV). NASA menggunakan F-18 HARV untuk memeragakan karakteristik penanganan terbang pada sudut serang yang besar, yakni 65-70 derajat menggunakan baling-baling pemvektor daya dorong. Penstabil F/A-18 juga digunakan sebagai kanard pada
F-15S/MTD milik NASA.
Hornet adalah salah satu pesawat terdini yang sangat banyak memanfaatkan
tampilan serbaguna, di mana pada
switch suatu tombol memungkinkan pilot mengendalikan kinerja tempur atau serang-darat atau kedua-duanya. Kemampuan "pengganda kekuatan" ini memberikan komandan operasi keluwesan yang lebih baik dalam hal pengendalian pesawat taktis pada suatu skenario perang yang berubah-ubah dengan cepat. Inilah pesawat tempur angkatan laut yang memadukan bus avionik multipleks digital, yang memungkinkan perbaruan dengan mudah.
Evolusi desain
Pada dasawarsa 1990-an, Angkatan Laut Amerika Serikat merasa perlu untuk mengganti pesawat-pesawat tempurnya yang sudah mulai uzur, seperti
A-6 Intruder,
EA-6 Prowler,
A-7 Corsair II, dan
F-14 Tomcat, tanpa memerlukan pengembangan yang wajar. Untuk menjawab kekurangan ini, Angkatan Laut mengembangkan
F/A-18E/F Super Hornet. Meskipun perancangannya serupa, Super Hornet bukanlah perbaikan dari F/A-18 Hornet, melainkan pesawat berkerangka lebih besar yang memanfaatkan konsep desain Hornet. Hornet dan Super Hornet bertugas dengan peran yang saling mengisi di dalam cadangan kapal induk Amerika Serikat, hingga dapat dioperasikannya
F-35C Lightning II, yang akan menggantikan F/A-18A-D Hornet.
Spesifikasi (F/A-18 Hornet)
File:F-18-3view.gif

Pengisian bahan bakar F/A-18 Hornet
Data dari U.S. Navy fact file, Aerospaceweb
Karakteristik umum
- Kru: F/A-18C: 1, F/A-18D: 2 (pilot and weapons system officer)
- Panjang: 56 ft
- Lebar sayap: 40 ft
- Tinggi: 15 ft 4 in
- Luas sayap: 400 ft²
- Airfoil: NACA 65A005 mod root, 65A003.5 mod tip
- Bobot kosong: 24,700 lb
- Bobot terisi: 37,150 lb
- Bobot maksimum lepas landas: 51,550 lb
- Mesin: 2× General Electric F404-GE-402 turbofans
- Dorongan kering: 11,000 lbf masing-masing
- Dorongan dengan pembakar lanjut: 17,750 lbf masing-masing
Kinerja
Persenjataan
- Senjata api: 1× 20 mm (0.787 in) M61 Vulcan nose mounted gatling gun, 578 rounds
- Titik keras: 9 total: 2× wingtips missile launch rail, 4× under-wing, and 3× under-fuselage dengan kapasitas 13,700 lb (6,215 kg) external fuel and ordnance,
- Roket:
- Rudal:
- Bom:
- Others:
Avionik
- Hughes APG-73 radar
- ROVER (Remotely Operated Video Enhanced Receiver) antenna for use by US Navy's F/A-18C strike fighter squadrons